NARASINUSANTARA.COM, TANAH BUMBU – Kabar membanggakan datang dari dunia perfilman Kalimantan Selatan. Sineas lokal asal Kabupaten Tanah Bumbu berhasil menghadirkan sebuah karya film pendek berjudul Tamakan Dabu melalui program Banua Film Fund 2026.
Film ini diproduksi oleh Layar Tanbu, sebuah komunitas film yang selama ini aktif berkarya di daerah. Kehadiran mereka dalam program Banua Film Fund 2026 menjadi bukti bahwa sineas dari daerah juga mampu bersaing dan menyuarakan cerita dari kampung halaman mereka sendiri
Yang membuat Tamakan Dabu berbeda dari film pendek lainnya adalah pilihan ceritanya. Film ini mengangkat kesenian Madihin, seni bertutur khas masyarakat Banjar yang sudah dikenal sejak lama.
Madihin biasanya tampil dengan pantun, humor, dan iringan rebana. Seni ini sering kita temui di acara-acara kampung, dari hajatan, peringatan hari besar, hingga hiburan masyarakat di malam hari.
Dalam Tamakan Dabu, Madihin tidak hanya ditampilkan sebagai hiburan semata. Madihin dipakai sebagai cara untuk bercerita, menyampaikan pesan, dan menyuarakan apa yang dirasakan warga.
Selain mengangkat budaya, Tamakan Dabu juga mengajak penonton untuk melihat persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga Tanah Bumbu, yaitu persoalan debu jalanan.
Debu dari jalanan yang masih belum beraspal atau sering dilalui kendaraan besar sudah lama menjadi keluhan warga. Debu itu masuk ke rumah, mengotori pakaian, mengganggu pernapasan, hingga membuat aktivitas sehari-hari menjadi tidak nyaman.

Persoalan inilah yang coba diangkat dalam film ini. Lewat cerita yang sederhana dan dekat dengan keseharian, penonton diajak merasakan bagaimana warga hidup di tengah debu, sekaligus melihat bagaimana budaya bisa menjadi jalan untuk menyampaikan protes secara halus.
Tidak dengan marah-marah, tidak dengan teriakan, tapi lewat pantun dan irama Madihin yang menghibur sekaligus menyentil.
Kehadiran Tamakan Dabu menjadi contoh bahwa budaya lokal tidak harus selalu tampil sebagai sesuatu yang kuno atau sekadar tontonan nostalgia.
Budaya bisa menjadi alat untuk bicara tentang isu-isu nyata yang ada di sekitar kita. Mulai dari soal lingkungan, soal jalan, soal kehidupan warga, hingga soal harapan agar daerah bisa menjadi lebih baik.
Film ini juga menjadi pengingat bahwa cerita-cerita besar tidak selalu harus datang dari kota besar. Cerita dari kampung, dari pinggir jalan berdebu, dari panggung Madihin yang sederhana, justru bisa terasa lebih jujur dan lebih menyentuh.
Dengan masuknya Tamakan Dabu ke Banua Film Fund 2026, diharapkan semakin banyak sineas muda di Kalimantan Selatan yang berani untuk berkarya dan mengangkat cerita dari daerahnya sendiri.
Tanah Bumbu sendiri memiliki banyak cerita yang belum banyak diangkat ke layar. Mulai dari budaya pesisir, kehidupan nelayan, tambang, hingga kisah masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam dan pembangunan.
Jika film-film seperti ini terus didukung, bukan tidak mungkin ke depan akan semakin banyak karya dari Banua yang dikenal di tingkat nasional, bahkan internasional.
Bagi masyarakat Tanah Bumbu, Tamakan Dabu bukan hanya sekadar film pendek. Film ini adalah kebanggaan, sekaligus bukti bahwa suara warga bisa disampaikan dengan cara yang kreatif dan bermartabat.
Kini tinggal menunggu bagaimana sambutan penonton terhadap Tamakan Dabu. Satu hal yang pasti, karya ini sudah berhasil membuat banyak orang kembali membicarakan Madihin, membicarakan Tanah Bumbu, dan membicarakan persoalan debu jalanan yang selama ini dirasakan warga.
Sumber berita: http://radio-swarabersujud.com, 2 November 2026
