NARASINUSANTARA.COM, TANAH BUMBU – Pucuk dicinta hujan pun tiba. Setelah berbulan-bulan dilanda musim kemarau yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai titik, hujan pertama akhirnya mengguyur sebagian wilayah Batulicin pada Selasa (8/9/2026).
Hujan dengan durasi sekitar 15 menit turun di kawasan Simpang Empat dan langsung disambut rasa syukur oleh masyarakat. Meskipun tidak berlangsung lama, turunnya hujan menjadi kabar yang telah lama dinantikan warga setelah kemarau berkepanjangan menyebabkan kekeringan, suhu udara meningkat, dan memicu puluhan kejadian karhutla.
Selama beberapa pekan terakhir, harapan agar hujan segera turun bahkan menjadi perbincangan sehari-hari masyarakat, baik di warung kopi maupun di bilik-bilik rumah warga Tanah Bumbu. Banyak warga berharap turunnya hujan dapat membantu memadamkan titik-titik api yang selama ini menghanguskan lahan di sejumlah wilayah.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait menunjukkan bahwa hingga awal September 2026, Kabupaten Tanah Bumbu masih berada dalam status Siaga Darurat Karhutla akibat cuaca panas dan kering yang berkepanjangan.
Secara khusus di Kecamatan Batulicin, sedikitnya telah tercatat 14 kejadian utama karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 30 hektare hingga akhir Agustus 2026.
Sementara itu, jika diakumulasikan di seluruh wilayah Kabupaten Tanah Bumbu, jumlah kejadian karhutla telah mencapai 84 kejadian dengan total luasan lahan terdampak sekitar 230,35 hektare.
Rentetan kebakaran tersebut terjadi hampir tanpa jeda sepanjang musim kemarau.
Pada 23 Juli 2026, kebakaran melanda lahan semak belukar di Desa Polewali RT 03, Kecamatan Batulicin. BPBD Tanah Bumbu mengerahkan 14 personel beserta armada tangki air untuk mengendalikan api yang membakar sekitar satu hektare lahan.
Memasuki pertengahan Agustus, tepatnya 17 Agustus 2026, kebakaran kembali terjadi di Kelurahan Gunung Tinggi sekitar pukul 17.00 WITA. Tim gabungan BPBD bersama Satpol PP dan Damkar berhasil mengendalikan api yang membakar lahan sekitar satu hektare sehingga tidak merembet ke kawasan perkantoran dan fasilitas umum.
Tiga hari berselang, 20 Agustus 2026, kebakaran berskala besar terjadi di Desa Polewali Marajae RT 003. Sedikitnya 10 hektare lahan hangus terbakar. Proses pemadaman melibatkan 41 personel gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Manggala Agni, dan unsur terkait lainnya.
Kemudian pada 24 Agustus 2026, titik api kembali muncul di Desa Danau Indah. Pusdalops-PB BPBD bergerak cepat melakukan penanganan agar api tidak merembet ke kawasan permukiman.
Memasuki September, kebakaran kembali meningkat. Pada 5 September 2026 sekitar pukul 00.40 WITA, kebakaran hutan dan lahan terjadi di sepanjang jalur alternatif Batulicin–Banjarbaru. Asap tebal yang menyelimuti kawasan perbukitan sempat mengganggu jarak pandang para pengendara.
Masih pada hari yang sama sekitar pukul 11.40 WITA, kebakaran kembali terjadi di RT 15 Desa Kersik Putih. Api yang diduga bermula dari arah Gang Sepakat merembet mendekati kawasan permukiman dan peternakan warga sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh Satgas Gabungan.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu tidak hanya melakukan upaya teknis pemadaman, tetapi juga menempuh ikhtiar spiritual.
Pada Senin, 24 Agustus 2026, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu menggelar Sholat Istisqa dan doa bersama di halaman Kantor Bupati Tanah Bumbu, kawasan Gunung Tinggi, Batulicin.
Kegiatan tersebut dipimpin dan dihadiri langsung oleh Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif, bersama jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN), unsur Forkopimda, para alim ulama, tokoh agama, pimpinan organisasi keagamaan, serta masyarakat yang memanjatkan doa agar hujan segera turun dan bencana karhutla dapat segera berakhir.
Sebelumnya, Polres Tanah Bumbu juga telah melaksanakan Sholat Istisqa secara mandiri pada 19 Agustus 2026 sebagai bentuk doa bersama demi keselamatan personel yang bertugas memadamkan kebakaran serta masyarakat yang terdampak.
Kini, harapan yang selama ini dipanjatkan perlahan mulai terjawab. Turunnya hujan di wilayah Simpang Empat memang belum berlangsung lama dan belum dapat dipastikan berdampak merata ke seluruh kawasan Tanah Bumbu. Namun, hujan perdana ini menjadi secercah harapan bagi masyarakat dan seluruh petugas yang selama berminggu-minggu berjibaku melawan kobaran api. (ANN)
